Views: 24
1 0
Read Time:4 Minute, 50 Second

Ritus dan Langgam: Ritual dan Keinginan – Segala yang hidup akan kembali pada muasalnya, dikebumikan dan jiwanya melangit. Ke samawa ia menghaturkan diri, membawa segala kekurangan sifat manusianya. Dalam hidup, kita tentu akan bertemu dengan ragam keinginan; watak yang baik dan pendendam; pemaaf dan pendengki; ada juga seseorang yang membiarkan dirinya sebagai lumbung luka, sekadar membuat yang lain tertawa. Manusia memang senang bercanda, berpura-pura tangguh padahal sangat rapuh.

Tentu kita berhak bersepakat atau bahkan menolak karena jika tidak, dunia takkan menarik. Tapi jangan berlebihan karena “kita adalah apa yang kita pikirkan” — Earl Nightingale dalam salah satu pernyataanya — jadi berhati-hatilah agar tak menjadi manusia yang merugi.

Proses hidup begitu menyenangkan sekaligus memilukan, bagi sebagian orang ia adalah pembentukan diri dan bagaimana pikiran mencoba mengenal diri. Hanya saja bagi sebagian yang lain ia menjadi perkara menyesatkan karena nilai-nilai yang dibawa berbanding terbalik dengan apa yang diyakininya. Contoh sederhananya adalah implementasi dari nilai menjadi laku. Kita memahami konsep dunia sebagai “tempat segala muara akan kembali menyatu dengan lautan” dan kedudukan manusia sebagai “pemimpin atas dirinya sendiri dalam mencari bentuk keyakinan”.

Kumpulan Puisi Ritus dan Langgam

Ritus dan Langgam merupakan sebuah judul buku yang ingin diterbitkan dan tengah dipersiapkan. Rencana penyusunan dan penerbitan buku kumpulan puisi ini sebagai bentuk refleksi atas apa yang dipahami tentang dunia — hubungan manusia dengan sang pencipta, hubungan antarmanusia (antarhamba), dan bagaimana manusia menyikapi segala bentuk kelalaian manusia ketika berkaitan dengan alam.

Mengutip apa yang dituliskan oleh Achmad Fauzy Hawi bahwa

Kumpulan Puisi Ritus dan Langgam rencananya akan diisi dengan beberapa tema tentang hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarsesama, dan gejolak juga pencarian jati diri. Doakan, semoga rencana ini terwujud. Oiya, sampul buku bisa berubah dengan mempertimbangkan credit pada font dan beberapa hal seperti penyesuaian dengan isi buku.

Keinginan untuk menyusun buku kumpulan puisi ini sudah ada jauh-jauh hari, bahkan saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pertama kali mengenal puisi dari salah satu puisi karangan Chairil Anwar (Aku si Binatang Jalan), pada waktu itu diberikan tugas oleh salah satu guru Bahasa Indonesia untuk membuat puisi.

Pertemuan itulah yang mengantarkanku hingga kini, terus menjadikan puisi sebagai salah satu upaya penyembuhan, pengenalan diri, proses pencarian dan alternatif untuk memaknai kehidupan. Tapi di lain pihak, pengetahuan tentang sastra, khususnya puisi masih sangatlah minim.

Meski demikian, keingina untuk menyusun naskah Ritus dan Langgam adalah upaya untuk mengemabngkan diri; mengetahui mana yang kurang dan tidak sehingga nanti para pembaca bisa memberikan kritik dan saran.

Perkenalan dengan puisi Chairil Anwar menjadi salah satu titik baru sekaligus tamparan keras, karena kala itu beberapa baitnya aku sadur dan tak bisa menghilangkan keasliannya. Oleh guru Bahasa Indoensia diberitahu bahwa hal itu tidak baik dan tidak dibenarkan:

“Jikalau ingin menyadur, setidaknya jangan membawa teksnya secara keseluruhan. Itu sama halnya dengan mejiplak dan artinya itu tergolong dalam plagiarisme”.

Aku memang tak tahu apa itu dulu plagiarisme, sadur-menyadur, maupun bagaimana proses gubahan dibuat. Hal itulah yang kemudian melucuti semua pikiran tentang bagaimana sebuah karya harus dihargai dan dijaga baik-baik, bukan pada siapa tapi pada proses di belakang — artinya usaha-usaha yang dilakukan oleh si penyusun.

Cuplikan Puisi Ritus dan Langgam

Ritus dan Langgam dijadikan judul dengan alasan keyakinan yang dibangun mampu memberikan efek baik pada orang lain. Selain itu, dalam judul ini terdapat sebuah pengantar doa-doa yang kuperoleh dari banyak orang, khususnya keluarga dan sahabat. Judul tersebut tak lain adalah bentuk keyakinan dan doa-doa yang terus bersenandung.

Di jalan setapak yang kau lalui
aroma bunga kasturi tercium
baunya membawa duka, disinggul
masa lampau yang tak pernah selesai
kau nyanyikan di waktu pagi

Pada masa sebelum perang
kau jadikan ia imam dan tak lupa
selalu kau doakan; semoga Tuhan
memberi umur panjang — untuk kepercayaan
dan untuk kisah kita tak pernah lekang.

Namun di ambang batas kemenangan
belati tajam menusuk dari belakang
membuat tubuhku terkapar dan tenggelam
dalam kekalahan: Aku wafat di tengah-tengah
haru yang seketika berubah menjadi benalu
Sesal tak terperikan.

Di pemakaman kau tertawa
membawa bangkai bunga yang tak lagi beraroma.
Aku kau tinggalkan di makan zaman
kemenangan menjadi milikmu
dan dipecundangi kau jadikan alasan
menjatuhkanku dari batas kahyangan.
Dengannya kau mengisi mimbar
sembari berkata: Semoga tenang yang kalah
dan gugur di peperangan. Seratus abad
yang akan datang, sejarah akan mengulang.

Pengkhianatan dan kambing hitam.

Di atas adalah salah satu puisi yang akan dimuat dalam Kumpulan Puisi Ritus dan Langgam. Puisi tersebut ditulis pada 21 Juli 2020 di Yogyakarta sebagai sebuah refleksi dan pelajaran bahwa dalam setiap kisah; perjalanan dan perjuangan akan ditemukan watak seorang pengkhianat sekaligus orang-orang yang dijadikan tumbal untuk sebuah kepentingan.

Di bawah rindang pohon akasia
kusimpan segala kenang.
Semoga Tuhan mengingatkan
sejarah dan perjalanan
yang tak usai meski kadang
jiwaku pesakitan; setengah
menyerah dan takut menyesal
kemudian

Setiap orang hidup dengan membawa sejarahnya sendiri, tak peduli ia terlahir dari golongan mana. Tuhan tak pernah mempermasalahkan itu karena Tuhan tahu, apa dan mana yang baik dan benar.

Dalam ritus peribadatan
atau apologi yang diwasiatkan
tak kutemukan wajah
teduhmu, sayang.

Jika kelak engkau singgah
atau tanpa sengaja
lusa berkunjung ke tempat
di mana misa dijadwalkan
setidaknya, temukan kasihku
di antara hukum-hukum suci
sebelum kau pulang
merebahkan kekhawatiran.
; kasih Tuhan abadi.

Kasih Tuhan Abadi adalah salah satu puisi yang ada dalam Kumpulan Puisi Ritus dan Langgam — belum diterbitkan dan masih dalam proses penggarapan. Aku menulis kumpulan puisi ini tidak lain adalah untuk mengistirahatkan segala pikiran yang picik dan menenangkan jiwa yang sesekali berontak; tak percaya bahwa ada kuasa dalam diri setiap manusia yang mampu meruntuhkan segala kekalutan; menabahkan urusan-urusan yang tak sempat dibicarakan kemanusiaan.

Selain harapan tersebut, penyusunan naskah ini sebagai bentuk terima kasih kepada keluarga sekaligus untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tiada yang buruk dari segala bentuk pemberian dan karunia Tuhan. Puji syukur tetap tercurahlimpahkan kepada-Nya.

Kumpulan Puisi Ritus dan Langgam rencananya akan diisi dengan beberapa tema tentang hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antarsesama, dan gejolak juga pencarian jati diri. Doakan, semoga rencana ini terwujud.

Tulisan ini dikurasi dari situs Achmad Fauzy Hawi sebagai bentuk pengenalan dan kerjasama.

Penulis

Redaksi

Kamitua Manggala adalah proyek bersama yang digagas oleh Mahasiswa/i Universitas Cokroaminoto di Yogyakarta dengan tujuan untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh tanpa menghilangkan keilmiahannya.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *