fbpx

Refleksi May Day dan Catatan Munir: Gerakan Perlawanan Buruh

Refleksi May Day dan Catatan Munir: Gerakan Perlawanan Buruh – Hampir semua orang mengenal Munir, seorang tokoh yang sangat dekat dengan kata perlawanan dan penegakan hak-hak kaum kecil. Riwayat hidupnya yang kental akan kemanusiaan dan pertentangan; pembelaan hak-hak buruh sekaligus tokoh berpengaruh bagi kehidupan kaum buruh di Indonesia. Pada masanya, Munir kerapkali menjadi target pemerintahan, pun menjadi sosok tak kenal takut selama kebenaran masih dalam kandung badan. Meski kemudian ia tersingkirkan dan sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti penyebab kematiannya bahkan setelah Indonesia merdeka dan berganti tampuk kepemimpinan hingga beberapa kali.

Munir dan peninggalannya masih menjadi misteri sekaligus menjadi penyemangat hidup untuk mengenang perjuangan di masa lalu. Sebelum wafat munir banyak menghabiskan waktunya dengan menulis buku “Gerakan Perlawanan Buruh: Catatan Pikiran, Pengalaman dan Pemberdayaan Buruh 1990-an Hingga Reformasi” yang diharapkan mampu memberikan pengetahuan mendasar bagi kaum-kaum buruh dalam mempertahankan haknya.

Lalu apa keistimewaan dari buku yang terbit pada tahun 2005 ini? –- setelah 10 tahun wafatnya Munir, buku ini diterbitkan ulang dengan revisi pada beberapa kalimat serta bab. Pengakuan yang diperoleh, revisi ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan. Padahal pemikiran otentik seseorang tidak seharusnya direvisi karena interpretasi antara penulis dan perevisi berbeda, baik dari segi umur atau usia, pengalaman, maupun sudut panjang objektif dan subjektifnya juga berbeda.

Kesadaran, Revolusi, dan Gerakan Perlawanan

Sejak Revolusi Industri di Eropa pada abad ke-17, buruh menjadi entitas atau kelompok yang tunduk pada kuasa korporasi (bisa dibilang perusahaan raksa). Dalam sistem industri, buruh secara tidak sadar teralienasi (tergeser) dari hakikat kemanusiaannya, lingkungan sosialnya, bahkan sampai pada tarap hasil kerjanya. Pekerjaan manusia yang idealnya beputar pada banyak dimensi seperti proses kreativitas, kontribusi sosial dan pemanfaatan pengetahun kemudian berhenti pada satu dimensi saja yaitu, upah.

Upah kemudian menjadi satu-satunya tujuan (komuditas) dari pekerjaan. Hal ini mengakitbatkan para buruh berada pada posisi yang terdeterminasi (dikuasai) secara ekonomi. Seakan-akan buruh diharuskan dan diwajibkan untuk senantiasa menjual tenaga, waktu, dan pengetahuannya kepada korporasi yang selalu menuntut bekerja dan bekerja. Akhirnya daya kembang pengetahuan menjadi mundur dan merosot jauh, karena tanpa sadar pemikiran sudah terkontaminasi antara “jika tidak bekerja, tidak akan mendapatkan upah. Jika tidak mendapatkan upah, maka tidak akan makan. Lantas bagaimana hidup akan berlangsung?”.

Pada posisi itulah kemudian Karl Marx melalui gagasannya mencoba untuk menggugah kesadaran kaum buruh. Guna memberikan nilai lebih, Marx menerbitkannya dalam buku Das Capital yang sampai saat ini telah dibaca hampir sepertiga penduduk dunia. Melalui karyanya tersebut, Marx memaksa kaum-kaum buruh sadar bahwa satu-satunya cara melepaskan diri dari kungkungan penindasan modal adalah dengan merebut kekuasaan politik dari tangan Borjuis (kaum pemodal).

Sejarah kemudian mencatat perlawanan kaum buruh akhirnya membuahkan hasil melalui Revolusi Soviet 1917 yang oleh dunia disebut sebagai kejadian fenomenal dan luar biasa pada masanya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri perlawanan maupun revolusi yang dilakukan kaum buruh pada masa Soviet juga pernah menuai kegagalan. Hal ini berkaitan dengan pemerintahan Lenin yang cenderung diktator proletariat.

Hal yang perlu digarisbawahi kemudian adalah, pada masa-masa setelahnya hal serupa juga terjadi karena singgasana kekuasaan yang sangat mewah, megah, dan nyaman menjadikan tokoh-tokoh yang mendudukinya lupa diri. Selain itu, perlu diperjelas bahwa sebenarnya perjuangan buruh mulanya terjadi bukan bertujuan menuntut kenaikan upah melainkan lebih pada perjuangan memperbaiki sistem produksi agar lebih adil dan tidak mengandung unsur penindasan.

Saat ini gerakan buruh yang beriorientasi pada kekuatan politik masih cukup membekas di Eropa. Sedangkan di Jerman yang merupakan tempat kelahiran Karl Marx sampai saat ini masih banyak perusahaan yang memilih memberikan kesempatan kepada buruh untuk berpartisipasi dalam perkembangan perusahan, hal itu bisa dilihat dari bagaimana para buruh terlibat langsung dalam penentuan arah dan besaran upah yang harus diterima. Bahkan para buruh juga memiliki hak suara dan bicara untuk memberhentikan atasannya sendiri sebagaimana terekam dalam film dokumenter garapan Michael Moore; Capitalism A Love Story (2019).

Di Indonesia sendiri, gerakan kaum buruh juga mengintegrasikan (menggabungkan) diri dalam kekuatan politik, hal ini bisa dilihat dari catatan sejarah pada masa kolonial di mana kaum buruh ikut andil dan bergerak bersama kekuatan politik anti kolonial. Tujuan penggabungan (baca: sentrasilasi) ini kemudian dipahami dan diyakini sebagai salah satu cara untuk mewujudkan pemerintahan nasional yang baik secara sosial-ekonomi. Kesadaran dan tujuan dari sentralisasi gerakan buruh di Indonesia bisa dilihat pada November 1919 di bawah kepemimpinan dan pengaruh tokoh-tokoh masa Sarekat Islam (SI) yang kemudian mengilhami terbentuknya Panitia Pergerakan Buruh (PBB) — Semaoen (Ketua), Suryo Pranoto (Wakil Ketua), dan Agus Salim (Penulis).

Nantinya pergerseran kesadaran inilah yang menjadikan pergerakan buruh di Indonesia mengalami intervensi. Tanda-tanda intervensi tersebut ditandai dengan adanya fungsi khusus dari organisasi buruh – Serikat Pekerja Seluruh Indoneisa (SPSI) pada tahun 1970, lebih jauh lagi kita bisa melihat pada zaman penjajahan Belanda, Jepang, sampai masa terciptanya Orde Baru. Pergeseran kesadaran inilah kemudian yang melandasi Munir untuk menyampaikan kritiknya terhadap aspek ekonomi ansih yang dipercaya telah diintervensi oleh kekuasaan. Pendapat ini juga tertulis dan tertuang dalam buku Gerakan Perlawanan Buruh: Catatan Pikiran, Pengalaman dan Pemberdayaan Buruh 1990-an Hingga Reformasi.

Sebagai catatan refleksi, beberapa dekade ini konflik kepentingan dan masuknya intervensi kekuasaan ke dalam organisasi buruh membuat konsolidasi gerakan buruh semakin sulit dicapai. Salah satu hal ini dikarenakan tidak sedikit organisasi buruh yang justru pemimpinnya bukan dari kalangan buruh melainkan orang-orang yang bermodal. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya organisasi buruh yang didirikan oleh beberapa perusahaan untuk menandingi gerakan perlawanan buruh atau pekerja.

Refleksi May Day: Konsolidasi Buruh dan Peringatan Serentak

Ilusterasi May Day 2021

Aksi turun jalan atau yang lebih dikenal dengan sebutan May Day selalu menjadi topik menarik sekaligus penuh intrik; panas seperti kukusan roti dalam oven. Hari ini tepat 01 Mei 2021 yang artinya secara serentak akademisi, aktivis, para buruh, dan organisasi buruh turun ke jalan. Seakan-akan mereka semua ingin mengabarkan bahwa Gerakan Buruh masih tetap eksis hingga saat ini. Sayangnya, May Day yang identik dengan hari-hari besar, seakan-akan hanya menjadi bulan berbalut seremonial semata. Lantas apa tujuan utama peringatan May Day tahun ini? Hal ini yang perlu dijawab oleh para aktivis dan pemegang kepemimpinan di organisasi buruh.

Konsolidasi dalam perayaan dan bermegah-megahan menjadi salah satu hal paling kuat saat ini, akan tetapi bagaimana dengan konsolidasi antargerakan buruh? Apakah masih akan dianggap sebagai satu kesatuan pergerakan maupun ikatan apabila tidak ada tindakan nyata yang diambil Ketika sekelompok pekerja di beberapa daerah diberhentikan secara semena-mena.

Dewasa ini, taring dari gerakan buruh hanya terlihat di media massa saja tapi pada aksi nyatanya banyak distempeli oleh kilatan warna merah dan biru. Dalam catatannya yang berjudul “Seabad Gerakan Buruh”, MS Hidayat mengungkapkan bahwa salah satu penyebab lemahnya gerakan buruh adalah para buruh tidak memiliki pemahaman ideologis gerakan. Kekurangan ini disebabkan karena kurang sukanya membaca atau mengoleksi literatur (buku) untuk dijadikan asupan sehingga pemahaman ideologi gerakan menjadi sangat kering.

Oleh sebab itu, untuk mengembalikan spirit ataupun ruh pergerakan dari kaum buruh salah satunya dengan belajar dari pengalaman masa lalu. Sebagaimana dikatakan Anthony Giddens: “Kehancuran sebuah peradaban selalu dimulai dengan kehancuran refleksi”. Selain itu, Munir yang terkenal akan gerakannya memberitahu kita bagaimana seharusnya kebijakan perburuhan dibuat. Munir selalu mendorong dan berupaya agar kelompok buruh senantiasa solid dan dersatu dalam perjuangan, baik secara politis maupun secara ekonomis. Sebab Munir percaya, lemahnya solidaritas dan persatuan dari gerakan buruh akan melemahkan posisi tawar buruh dan akan menihilkan partisipasi individu (masing-masing buruh) untuk berjuang bersama.

Dalam suasana disoreintasi (kehilangan arah) gerakan dan confict interest (pertentangan kepentingan) seperti salah satu masterpiece dari Munir perlu kiranya dibaca agar menambah pemahaman dan kesadaran bagi kita semua untuk memperjuangkan hak dan kepentingan kaum buruh.

Terakhir, semoga refleksi May Day 1 Mei 2021 ini mampu membangkitkan dan menghidupkan kembali spiriti ideologis gerakan buruh Indonesia. Pun semoga kita senantiasa mengingat bahwa perjuangan yang dilakukan Munir akan tetap hidup dan menjadi catatan penting bagi perkembangan pengetahuan.

Editor: Achmad Fauzy Hawi

Refleksi May Day dan Catatan Munir: Gerakan Perlawanan Buruh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *