fbpx

Nasionalisme dan Papua di Punggung Belalang

Review Buku Ufuk Timur

Nasionalisme dan Papua di Punggung Belalang – Jika diberi kesempatan untuk berjalan-jalan tanpa perlu memikirkan anggaran; tanggungan biaya hidup dan melakukan segala hal yang disenangi, apa yang akan kalian lakukan? Pasti menyenangkan dan mendebarkan, bukan? Mencatat beberapa pengalaman dan menjadikannya sebagai sebuah sejarah, syukur-syukur bisa dinikmati oleh setiap orang di penjuru negeri ini seperti yang dialami oleh Christopel Paino ini.

Ia menceritakan pengalamannya ketika berada di wilayah perbatasan yang (mungkin) bagi sebagian orang terbelakang namun sebenarnya penuh dengan cagar budaya, keberagaman dan rasa saling menghormati. Pahit dan manis ia susun dan ceritakan dalam buku Ufuk Timur, di mana pelbagai kejadian tak terekspos bisa ditemukan dalam buku ini. Selain itu, kita akan disuguhkan fakta-fakta tentang kondisi para wartawan dan warga Papua yang mengalami penindasan juga intimidasi.

Dokumen Pribadi: Buku Ufuk Timur, Belalang Komunis, dan Sastra Nasionalisme Pascakoloniliatas

Papua sendiri sudah banyak disorot dan ketika berbicara tentang Papua maka akan menyinggung sedikitnya tentang satuan tugas aparat keamanan dan beberapa isu tentang keinginan Papua untuk membebaskan diri dari Indonesia bahkan bagi sebagian orang di negeri ini akan melihat Papua sebagai wilayah dengan tindak kekerasan paling banyak. Sayangnya, banyak dari kita juga lupa bahwa ada alasan-alasan mengapa Papua dan warganya ingin melepaskan diri dari Indonesia dan bagaimana aparat keamanan menghadapi mereka dengan tindak militernya.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Papua melalui Organisasi Papua Merdeka (OPM) ingin merasakan seperti apa rasanya merdeka dan tidak terjajah di negeri sendiri. Terlepas dari unsur-unsur kekerasan yang selama ini dirasakan masyarakat Papua, sudah menjadi hal yang wajib bagi masyarakat Indonesia dan secara khusus pemerintah pusat untuk memberikan perhatian sehingga konflik panjang bisa diredam tanpa harus memperbanyak jumlah korban.

Buku Ufuk Timur, Sebuah Perjalanan dan Perjumpaan di Tanah Papua adalah kilas balik dari catatan panjang yang ditulis oleh Christopel Paino dengan sudut pandang orang pertama, di mana penulis menjabarkan nilai-nilai empiris selama berada di Papua baik ketika terjebak dalam kerusuhan maupun ketika mendapatkan perlakuan represif dari beberapa aparat.

Bagiku, penulis seperti menjelajahi waktu dengan bakat yang sebelumnya sudah dikuasai. Menunaikan kewajiban sekaligus mencatat sejarahnya sendiri, di mana bagi sebagian orang menjadi ancaman karena isu tentang Papua digoreng cukup matang sehingga wajannya pun tak cukup kuat untuk menampung beban yang diberikan.

Sebelum lebih jauh mengulas buku-buku yang lain, perlu ditegaskan bahwa tidak ada maksud apapun dalam tulisan ini kecuali ingin menyampaikan beberapa hasil bacaan dan beberapa penafsiran yang diperoleh. Sehingga tanpa mengurasi rasa segan, pembaca diharapkan bijak dalam menafsirkan maksud dari tulisan ini.

Pengalaman lainnya bisa kita temukan dalam buku Belalang Komunis, buku yang banyak menyuguhkan cerita-cerita dari Indocina, sebuah kisah bagaimana negara tetangga mengalami pasang surut dan mencoba bertahan dari satu waktu ke waktu yang lain. Tidak jauh berbeda dengan yang ditulis oleh Christopel Paino dalam bukunya, Belalang Komunis juga menyuguhkan fakta-fakta menarik yang (mungkin) selama ini terpendam cukup dalam bahkan bisa dikatakan sukar dijabarkan dalam buku-buku sejarah.

Gaya penulisan yang dipakai memang tidak bisa dikatakan sepenuhnya disandarkan pada keilmiahan melainkan pada bagaimana pengalaman memberikan makna dan arti yang berarti. Andre Barahamin memberikan panduan perjalanan yang lain, di mana dari emperisnya ia menjabarkan secara gamblang bagaimana negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Laos dan negara yang tergolong dalam Indocina lainnya mengalami pasang surut.

Namun ada salah satu hal yang menarik, yang ditulis dalam pengantar bukunya. Andre Barahamin sebagai penulis mengakui dan membuat pernyataan bahwasanya buku ini bukanlah sebuah panduan perjalanan. Sepenuhnya saya tidak menyalahkan maupun ingin membantahnya, karena wisata yang dijalani oleh Andre Barahamin merupakan puncak emperis bagi dirinya sendiri di mana ia dengan cukup baik mengulas dan menjabarkan seperti apa kondisi-kondisi dari negera yang dijajakinya.

Dalam buku Belalang Komunis ini pun kita akan disuguhkan bagaimana paham komunis berkembang sampai bagaimana perang gerilya yang diinisiasi Partai Komunis Thailand (PKT) berlangsung. Namun jangan berburuk sangka ketika mendengar kata Komunis, gerakan atau perang yang diinisiasi oleh PKT ini berbeda dengan Partai Komunis Indonesia. Ada alasan cukup jelas mengapa PKT melakukan perang tersebut, salah satunya adalah untuk menentang tahta yang berkuasa di mana diyakini pada masa itu di balik istana terdapat gajah dan boneka-boneka Amarika Serikat. Dalam catatan sejarahnya pun perang ini menjadi perang tebesar dalam sejarah Thailand. Meski demikian sangat disayangkan, PKT menghilang tanpa jejak dan sulit ditelusuri keberadaannya bahkan sangatlah sukar diperoleh informasinya.

Sedangkan Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas yang ditulis Kartin Bandel adalah sekumpulan buah pikir, yang jika dibaca dengan saksama akan ditemukan sebuah perbatasan di mana Kartin Bandel terkadang memosisikan dirinya sebagai orientalis dan terkadang menjadi orang dalam yang merasa bertanggung jawab terhadap sastra Indonesia. Selain itu tema yang diangkat dalam buku ini juga beragam, mulai dari kritik terhadap politik sastra, majalah sastra, kesusastraan melayu tionghoa, bahkan sampai pada bagaimana hubungan antara Jerman dan Indonesia.

Namun, penulis perempuan kelahiran Jerman ini pun tak mau menghilangkan latarbelakangnya sebagai akademisi. Sehingga kita sebagai pembaca akan disuguhkan sudut pandang yang beragam bagaimana sastra kontemporer berkembang, pembacaan atas karya-karya dari penulis ternama seperti Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Martin Aleida, Chavchay Syaifullah. Di lain sisi ia menyinggung spirituaitasl dan budaya yang menjadi gerak kehidupan.

Buku-buku di atas diterbitkan Indie Book Corner yang dimotori oleh Irwan Bajang selaku pendiri. Sangat disarankan untuk membaca bukunya langsung karena fakta yang akan diperoleh cukup menarik dan informatif sehingga bisa menjadi bahan analisis juga pertimbangan bagaimana posisi Papua di Indonesia, cerita dari Indocina serta perkembangan sastra di Indonesia yang cukup memberikan pengaruh besar dalam kesusastraan Indonesia itu sendiri.

Selamat ulang tahun yang ke-11 Indie Book Corner dan terima kasih untuk satu tahun terakhir yang amat berharga. Semoga awal yang cantik seperti tanggal 09 September 2009 (09/09/09) yang dikatakan oleh Irwan Bajang dapat diteruskan oleh Darliah ke depannya sehingga Indie Book Corner tetap eksis dan mampu bersaing dengan perkembangan zaman. Satu yang ingin saya sampaikan, biarpun ada dilema di dunia penerbitan dengan munculnya penerbitan digital tidak mengurangi semangat.

Catatan terakhir, semoga besok atau dalam waktu dekat Indie Book Corner bisa menyediakan penerbitan digital yang tentunya dengan sistem yang cukup dan bisa memberikan pandangan baru bagi penerbit-penerbit lain.

Nasionalisme dan Papua di Punggung Belalang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *