Kisah Ayasofya yang Senantiasa Setia Kepada Istanbul

Kisah Ayasofya yang Senantiasa Setia Kepada Istanbul

Kamitua, Ulasan Buku – Pada sebuah kehidupan yang dianggap baik oleh masing-masing orang sebenarnya tak lebih dari abstraksi dan kenaifan belaka, sebab tak semua kenyataan benar-benar terbuka; ia masih mendekam cukup dalam pada perbuatan — kebaikan maupun keburukan, kekhawatiran maupun ketabahan, dan banyak persoalan yang (mungkin) tak mudah. Kamu mungkin mencoba mempertahankannya dengan segenap tenaga, berupaya mati-matian agar tak ada yang sia-sia, hanya saja semua itu hanyalah kilah. Kekuatan dan perbuatan yang dipertontonkan sekadar ingin menunjukkan bahwa semuanya masih terkendali, tampak baik-baik saja.

Akan tetapi, seperti kebanyakan hidup yang mencatat sejarahnya sendiri, keingintahuan yang terus mengusik dan hal-hal menarik yang coba diulik. Terkadang kita enggan untuk menanggapi permintaan hati, hingga tanpa mau tahu segala yang sudah dipertahankan perlahan memudar, tertinggal dan hanya menjadi satu-satunya alasan bahwa hidup memang layak mengandung kepedihan, jawaban atas segala pertanyaan atau kehendak yang harus diikuti dengan tanpa mengedepankan akal sehat.

Pada dasarnya kamu menyadari, setiap orang punya ceritanya sendiri, sejarah yang perlu dicatat dan dikisahkan kepada yang dipercaya; dianggap sebagai bagian utuh menjaga rahasia. Sebab hal-hal yang sudah seharusnya ditutup rapat-rapat tak boleh dibuka apalagi diusik keberadaannya. Biarkan ia tetap menjadi cerita yang hanya diketahui semesta. Perihal sakit yang diterima sebelumnya jadikan penguat bahwa hidup tak lebih dari persinggahan dan pencarian jati diri, tentang baik buruk biarkan yang kuasa memutuskan. Lalu persoalan surga dan neraka, jadikan ia pengingat bahwa selalu saja ada yang tampak seperti surga di mata manusia dan begitu pula sebaliknya.

Gambaran di atas dapat ditemukan pada buku “Bulan Tak Lagi Sabit” salah satu karya yang dilahirkan di negeri seberang, negeri yang bisa dibilang cukup dekat dengan samudra dan cukup jauh dari daratan. Perkenalanku dengan “Bulan Tak Lagi Sabit” adalah pertanda baik, tentang bagaimana cerita-cerita epik dan penuh makna dikemas. Berlatar belakang pesantren dan sedikitbanyak menyisipkan hal-hal spiritual menambah kepadatan makna dan pesan yang coba disampaikan penulis. Ide cerita yang dibangun memang tak terlalu menohok, akan tetapi dari masing-masing tokoh bisa diketahui bahwa buku ini memiliki kisahnya sendiri; tentang bagaimana penulis menyiapkan naskahnya seperti riset dan gagasan-gagasan yang coba dibangun, kegigihan ini perlu diapresiasi.

Bulan Tak Lagi Sabit dan Pertautan Masa Depan

Kisah dalam buku ini dimulai dengan memperlihatkan bagaimana salah satu dari sahabat Arman — nantinya Arman akan menjadi salah satu narator yang diperagakan penulis sekaligus menjadi tokoh utama dalam buku ini. Penulis juga tidak hanya menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi jika lebih dikaji akan mengantarkan pembaca pada sudut pandang campuran. Pada satu waktu, ia bertindak sebagai tokoh perempuan yang memiliki wibawa dan cukup riang. Sedangkan di waktu yang lain ia memilih untuk menjadi sosok bijaksana, penuh tatakrama dan sangat berpegang teguh pada keyakinan agamanya. Hal itu bisa ditemukan pada salah satu tokoh bernama Ustaz Zaki atau Tuang Guru Akhil, salah seorang pengasuh pondok pesantren tempat Arman tinggal dan tumbuh besar bersama kedua sahabatnya.

Bulan Tak Lagi Sabit mengusung konsep cerita Religi-Historis, yaitu sebuah gagasan tentang alur cerita yang mengambil setting keagamaan berbalut sejarah. Sejarah yang diambil adalah kilas balik dari Istanbul, sebuah kota di Turki. Selain itu, di dalam novel ini juga diceritakan bagaimana perjuangan pada masa-masa Nabi Muhammad Saw. dan juga pada masa-masa perjuangan pasukan muslim dalam menghadapi pasukan Romawi. Semua kisah itu bisa ditemukan pada bangunan tua dan memiliki banyak catatan sejarah, Ayasofya-Masjid Biru.

Perjalanan Arman ke Istanbul, Turki untuk menuntaskan amanah yang diberikan sahabatnya menjadi satu kisah menarik dan penuh intrik. Bagaimana tidak, perjalanan yang seharusnya penuh dengan keharuan berkahir dengan air mata. Mulai dari perseteruan Arman dan Raden — Raden adalah salah satu sahabat Arman yang pada awal cerita digambarkan sebagai seorang anak muda yang mengalami banyak kekerasan baik mental dan fisik dari ayah tirinya. Parahnya ia dengan terpaksa harus meninggalkan ibunya yang penuh cinta kasih hidup dengan seorang bajingan tak tahu diri. Sendirian. Raden, terjebak dalam kekalutan masa lalu, dihantui, dibayangi, dan seakan-akan ragam kejadian silam itu kian menyeramkan. Ia tak tahu harus berbuat apa karena kelemahannya, hanya bisa pasrah meski sebenarnya tak menyerah. Luka-luka masa lalunya takkan mudah dihapus begitu saja. Ia harus hidup dengan keterbatasan, menyimpan kelam kenang agar kehidupannya jauh dari tatapan aneh orang-orang.

Ayasofya yang menjadi saksi bagaimana kisah persahabatan kembali menjadi ikatan tali persaudaraan meski sebelumnya hampir mengalami keretakan, karena Raden merasa bahwa Arman mengkhianatinya. Kisah epik lainnya dalam buku ini adalah ketika Arman menjelaskan bagaimana seharusnya perempuan muslim bersikap dan bagaimana Islam memandang setiap manusia dan ciptaan Tuhan. Ayasofya juga menjadi saksi bagaimana cinta memaafkan dan pertentangan keingian orang tua menjadi alasan perpisahan; perbedaan budaya dan agama.

Emily adalah perempuan yang sangat dicintai oleh Arman, tapi karena keyakinanya berbeda ia harus merelakan. Arman merasa bahwa cinta tak perlu diperdebatkan sedangkan keyakinan harus diteguhkan meski harus kehilangan. Namun, cinta telah mengakar pada hati Arman sehingga ia tak mampu melupakan Emily. Ia tetap teguh memegang cintanya dan tak rela melepaskan keimanannya. Ia berharap dan berdoa kepada yang Esa agar diberikan kemudahan dan diberikan ketabahan sehingga hal-hal yang mengaburkan cahaya hatinya perlahan terkikis, hilang. Diserahkan dan dipasrahkan segalanya kepada yang paling berhak, memutuskan dan memilihkan.

Emily, pada sepasang tanganmu
doa kerapkali berlipat
mengandung cerita; tutur
dan bahasa. Senantiasa diterjemahkan
malam, tepat sebelum subuh berkumandang
kebohongan-kebohongan seharusnya
tertunda juga tak berlipat ganda.

Emily, pada sepasang matamu
sinar bulan tak sirna-sirna
mengantar amin penuh ketenangan.

Emily …
dan pada sepasang ingatanku
tak lekang wajahmu; merekah
dalam jiwa, tersenyum lepas
hingga kini setelah perpisahan
waktu itu. Erat pelukmu dan
ketakutanku akan lalai imanku.

Dan Emily, kelak (mungkin) kau 'kan tahu
pada bulan yang tak lagi mengenal
waktu sabitnya. Setitik cahaya
menjadi awal cinta, di hadapan
yang Esa dan penuh kuasa
kita tak lebih dari embun pagi
tersapu matahari.

Emily, pada sepasang matamu
hatiku tertaut dan jiwaku tertambat
meresap masuk dalam hidupmu.

Novel ini mengambil setting tempat di Indonesia dan Turki. Setting tempat awal adalah Pondok Pesantren Nurul Huda, Lombok yang menjadi latarbelakang terbukanya cerita hidup Arman dan dua sahabatnya, Raden dan Ashraf. Di tempat inilah Arman bertemu dengan Emily Rose, salah seorang perempuan berparas cantik dan baik, menjadi perempuan istimewa dalam kehidupan Arman meski perpisahan tak terelakkan kemudian. Emily Rose harus melanjutkan studinya di Istanbul sedangkan Arman harus kembali ke Pondok Pesantren setelah misi pencarian Fatimah, ibu dari Ashraf.

Arman tersentuh. Air matanya terjatuh. Ia tidak pernah merasakan cinta yang tulus. Cinta tidak bisa didapat. Tapi, cinta yang memastikan pilihan itu akan bahagia bahkan tanpa benar-benar mendapatkannya. Dia menunduk. Tangannya tetap setia membuat sketsa dan melukis, meletakkan bayang pada bukunya. Tiba-tiba sebuah jari halus, putih dan wangi menyapu kertas basahnya.

Roserq Mokhtar – Bulan Tak Lagi Sabit, Hal. 241

Kenangan tentang Emily masih membekas dalam hatinya, setelah perpisahan waktu itu. Masih terekam dengan jelas, pelukan Emily yang membuat getar khawatir dan ketidakberdayaan. Air mata menjadi saksi bagaimana kehidupan dua sepasang anak manusia yang tak pernah bisa mengikuti kata hatinya meski sama-sama mecintai.

Jika rindu adalah perang, seharusnya au memenangkanmu ribuan kali – Aman Aariz yang pernah mengenalmu.

Kisah tentangnya dengan Emily telah terukir cukup dalam selama empat tahun, bagaimana Arman akan melanjutkan kisahnya. Akankah Tuhan mempertemukan sepasang kekasih yang tak pernah bisa mengikat hubungannya di masa lalu? Pertemuan seperti apa yang akan diperlihatkan Tuhan untuk setiap ketabahan Arman dan hadiah apa yang Tuhan persiapkan untuk kegigihannya dalam memegang teguh keyakinannya?

Achmad Fauzy Hawi

Dilahirkan dan dibesarkan dengan nama Achmad Fauzy Hawi dan banyak menulis puisi, sesekali prosa. Saat ini bergabung dengan Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie. Jika ingin bertanya tentang blog ini sila hubungi ahmedfauzyh@gmail.com

Tinggalkan Balasan